RSS

Merangkai Mimpi dan Mewujudkannya

Setiap orang punya mimpi…
Setiap orang punya cita-cita…
Setiap orang punya rencana, keinginan juga harapan…
Dan yang pasti setiap orang memiliki kisah dan takdirnya masing-masing…

Rabu lalu, tepatnya  21  Agustus 2013 sesuai kesepakatan anak KTTI (Kelompok Tari Tradisional Indoesia – Seoul ) yang memiliki waktu luang akan menghadiri acara wisuda kak Florian. Kebetulan pagi itu tak banyak dari kami yang dapat menyempatkan diri untuk menghadiri acara tersebut. Adapun yang  bersedia hadir saat itu antara lain, yaitu Aidyta, Kak Emma, kak Amel,  Kak Qonita, dan Kak Melani, serta saya sendiri. Kami semua berkumpul di stasiun Hoegi dan menyempatkan membeli bunga sebagai ucapan selamat sebelum akhirnya capcus ke tempet tujuan..

Kak Florian Hutagalung

Florian Hutagalung….
Akan saya gambarkan seperti apa yahh ?? *( wkwkwk…mendadak bingung :/ ). Yang pasti beliau bukan hanya sebatas orang berjasa yang sudah memperkenalkan dan tak bosan mengajari saya berbagai jenis tari tradisional Indonesia di KTTI, melainkan juga menjadi guru yang selalu menjelaskan ini itu, berbagai hal yang tidak saya mengerti entah itu mengenai kebudayaan Korea, dll. Tak jarang juga kak Flo menjadi tour guide ketika jalan-jalan bersama *(hehehe… maaf kk Flo ^_^ ).

Lanjuuuuut….
Setelah dari stasiun Hoegi, kami lanjut ke “Kyung Hee University” (kampus kak Flo kuliah :D ) dengan menumpangi bus. Begitu tiba ditempat tujuan, kami sedikit kebingungan mencari gedung tempat acara berlangsung. Kalo gak salah waktu itu kak Emma sempat nanyain kesalah seorang yang berlalu lalang dihadapan kami, dan orang tersebut menunjukkan arah gedung yang jalanannya sedikit menanjak. Meski sedikit mengeluh dengan medan yang kami lewati, tapi tentu saja kaki kami tak berhenti melangkah hingga akhirnya sampai ketempat tujuan.

Diam sejenak menatap bangunan yang berdiri tegak dan menjulang tinggi  tepat dihadapanku. Sambil berdecak kagum memuji arsitektur bangunan tersebut, dan tak mau kehilangan moment, Aidyta mengajakku foto didepan gedung tersebut (maklum saya numpang eksis, hahaha ).

Depan Gedung Wisuda

Dan akhirnya kami masuk kedalam ruang wisuda, inilah pengalaman pertama yang sangat berharga, menghadiri acara wisuda seorang mahasiswa Strata 3 dan mendapat predikat sebagai mahasiswa dengan disertasi terbaik dibidang humaniora, selain itu juga mahasiswa yang resmi mendapat gelar Doctor Philosophy in Korean Languange and Literatur ini juga diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato diatas mimbar, dihadapan ratusan pasang mata yang berada dalam ruangan wisuda dan dihadiri oleh para Wakil Rector, Dekan, Dosen dan Wisudawan S3 dan S2 serta para tamu undangan, sebagai perwakilan mahasiswa asing.

Kak Flo waktu pidato

Mendapat predikat terbaik, dinegara asing, dengan menggunakan bahasa asing, juga mengalahkan mahasiswa lokal merupakan sebuah kebanggaan luar biasa, menjadi nikmat Sang pencipta yang patut disyukuri.

Setelah serangkaian acara wisuda usai, kami langsung kearah kak Flo dan memberi ucapan selamat, dan pastinya mengabadikan moment :D , tak lama setelah itu keluarga kak Flo juga menyusul untuk memberi ucapan selamat. Kagum, bahagia bercampur haru melihat pemandangan tersebut, bagaimana tidak, keluarga beliau yang jauh-jauh dari Indonesia, beramai-ramai datang ke Korea untuk menghadiri acara tersebut, begitu juga dengan keluarga beliau yang dari Jepang  (Orang tua angkat Beliau, saat menuntut ilmu disana).

Kak Flo bersama keluarga Indonesia

Kak Flo bersama keluarga Jepang

Bersama KTTI

     Tak berhenti disitu saja kekaguman saya hari itu. Diwaktu yang sama, saat kami mengantri untuk foto, saya melihat sepasang suami istri yang juga masih lengkap dengan toga berfoto didepan kami. Sepasang suami istri yang masih relative mudah ini juga baru saja usai menghadiri ceremony wisuda dengan gelar Doktornya di Universitas yang sama, dengan menggandeng dua putri mereka yang masih kecil smbil berlalu dihadapan saya, membuat saya sangat terkesimah. *(berharap bisa seperti mereka juga nantinya ) ^_^

Foto bersama

Narsis sebelum pulang ^_^

Terakhir kami berfoto bersama, lalu pulang ke hunian masing-masing. Sayonara \(^_^)/

Dengan rentetan pengalaman diatas, semoga selalu tertanam dibenak saya, menjadi motivasi dalam menyelesaikan pendidikan saya. Entah nanti bagaimana akhirnya, tapi saya selalu berharap yang terbaik, berusaha sekuat tenaga dan diiringi doa. Setiap insan punya kisahnya masing-masing, dan kisah itu kita sendiri yang menentukan dan melakoninya. Bermimpi itu tidak salah, tapi kadang harus. Karena dibalik mimpi selalu ada keajaiban yang menjadi kekuatan kita untuk mewujudkannya. Cukup percaya jika semua akan indah pada waktunya. Terimakasih ^_^



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hari Spesial

Assalamualaikum Wr. Wb.

Seperti layaknya seluruh umat Islam dibelahan bumi manapun, ada moment special yang selalu dinanti setiap tahunnya, yaitu bulan suci Ramadhan. Yah, bulan kesembilan yang meurut kalender Islam ini selalu tampak memperlihatkan suasana dan tradisi berbeda bagi umat Islam, karena pada saat itu rata-rata umat muslim akan melakukan ibadah puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, lalu setiap malamnya, masjid-masjid akan dipenuhi oleh anak-anak dan orang dewasa yang datang untuk melakukan shalat isya, tarwih dan witir.  Sehingga pada siang hari jarang kita melihat kedai-kedai makanan yang terbuka begitu saja, biasanya digunakan tirai penutup ( khususnya bagi negara yang penduduknya mayoritas muslim, contohnya Indonesia ), apalagi orang yang berlalu lalang makan dijalan, kalaupun toh dia seorang nonmuslim, pasti mereka akan tenggang rasa terhadap muslim yang sedang berpuasa.
Namun kali ini berbeda untukku, dan mungkin juga untuk kesepuluh saudaraku yang sama-sama merantau jauh dari kampung halaman untuk menuntut ilmu kenegeri lain. Untuk pertama kalinya, berdiri tegak menjalani hariku hingga separuh tahun berlalu, dibelahan bumi yang lain, dikolong langit yang berbeda, hembusan anginnya tak sama, bahkan harus empat kali beradaptasi dengan empat musim yang berbeda pula nantinya.
Meski keberadaan kami dinegeri gingseng ini baru dibilang seumur jagung, tapi setidaknya sedikit demi sedikit kami sudah mulai menyesuaikan diri dengan baik. Begitupun saat menjelang Ramadhan, tak ubahnya saat sedang berada ditanah air, kami juga tetap menanti riang moment-moment bulan suci ini. Awalnya kami sedikit kebingungan, mengingat aturan asrama yang menjadi hunian kami, yang mana asrama dengan empat lantai dan memiliki dua dapur umum ini, hanya memperkenankan penggunaan dapur mulai jam 6 pagi hingga jam 11 malam. Dan yang menjadi tanda tanya kami adalah bagaimana kami harus masak untuk persiapan makan sahur nantinya. Sempat kami sedikit tawar menawar dengan pegurus asrama, namun tak mendapat izin. Hingga akhirnya kami menemukan cara yang lain. Jadi untuk menyiapkan makan sahur kami telah memasaknya setelah makan malam. Mengingat waktu sahur juga tak begitu berjarak, karena pada pukul 2 dini hari kami sudah harus bangun untuk mulai makan sahur.
Banyak keadaan berbeda yang terjadi selama ramadhan di kota Seoul dibanding dengan saat berada ditanah air. Dimulai dari lingkungan sosial, negara yang sangat terkenal dengan artis k-pop ini penduduknya mayoritas non muslim, jadi hampir disetiap sudut kota kita bisa menemukan kedai makanan yang terpampang begitu saja, bahkan orang makan dan minum juga dengan leluasa. Selain itu Ramadhan tahun ini dikota Seoul bertepatan dengan musim panas. Mungkin teman-teman yang membaca postingan ini, akan beranggapan apa bedanya musim panas di Indonesia dengan Seoul, toh bakal sama saja, karena Indonesia yang merupakan negara tropis juga beriklim panas ( seperti isi pikiran saya saat pertama kali menginjakan kaki di negeri gingseng ini ), namun setelah saya merasakan musim panas sesungguhnya dinegara ini jauh berbeda dengan Indonesia, saya merasa beruntung lahir  dan besar di Indonesia, karena musim panas disini, selain suhunya juga sangat tinggi, ketika musim panas badan akan lebih mudah memproduksi keringat, dan keringat tersebut akan terasa lengket, bahkan tak jarang menjadi bintik-bintik merah ditubuh yang sangat mengganggu penampilan dan membuat badan terasa tak nyaman. Selain itu juga selama musim panas waktu terjadinya siang jauh lebih lama dari yang kami rasakan di Indonesia. Saat pertama menjalani puasa kami harus mulai sahur jam 2 malam, karena waktu imsak hampir setengah tiga pagi, lalu kemudian kami berbuka puasa pukul 07.58pm. Namun kuasa Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, selama bulan ramadhan Allah SWT begitu sering mengirimkan rahmat-Nya (hujan) sepanjang hari, hingga mentari kadang tak sempat diberi ruang untuk memberikan tambahan cobaan saat menahan dahaga.
Tak sampai disitu saja kesulitan kami, inilah salah satu hal yang sangat membuat kami merasa kehilangan, yaitu masjid. Jauhnya jarak masjid dari asrama hunian kami harus ditempuh dengan cara menumpangi bis hingga kestasiun subway dan dilanjutkan dengan subway, dan terakhir jalan kaki beberapa ratus meter hingga akhirnya mecapai masjid yang terletak di daerah Ittaewon tersebut. Setidaknya meghabiskan setengah jam lebih untuk menempuh perjalanan. Maka dari itu saya lebih sering shalat isya dan tarwih sendirian diasrama. Bahkan untuk pengingat waktu shalat dan berbukapun kami menggunakan jasa aplikasi Islamic finder. Tak jarang saat sahur dan berbukapun untuk menghidupkan nuansa ramadhan kami selalu mendengarkan lagu-lagu religi Indonesia yang kami download di youtube.


Ramadhan yang bertepatan dengan liburan akhir semester musim panas ini, kami isi dengan kegiatan yang beragam, dimulai dari ketempat wisata bersama, seperti ke Namsan tower, museum Tedy bear, Namsan hanok village, dll. Selain itu juga untuk 5 saudara kami lainnya, mereka sibuk dengan kegiatan kerja paruh waktunya. Tak jarang kami juga selalu mengikuti kegiatan buka bersama yang diselenggarakan oleh Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul setiap hari sabtu. Disana kami dapat bertemu dengan seluruh saudara setanah air yang tinggal di Korea, mulai dari yang berprofesi pelajar hingga pekerjapun terkumpul, dan menyatu disana. Sungguh sesaat momentnya berasa seperti sedang di Indonesia.



Nah ini dia moment puncak dari Ramadhan, yaitu ketika menjelang hari raya Idul fitri. Terasa kerinduan kami terhadap sanak saudara di kampung halaman semakin mengental. Dimana yang biasanya saat moment-moment ini kita sudah mulai disibukkan dengan berbagai aktifitas, mulai dari membenah rumah, membuat kue-kue special lebaran, atau memasak opor ayam, ketupat, dan lain-lain. Untuk sekedar megobati rasa rindu tersebut kami juga membuat acara kumpul kecil-kecilan bersama. Mulai dari belanja keperluan masak untuk makan malam secara bersama-sama, lalu masak bersama, dan saat malam Idul fitri itupun kami makan malam bersama, meskipun sdikit sedih karena salah satu saudara kami tidak dapat ikut makan bersama dengan kami ( karena dia tidak mendapat izin kerja TT_TT ). Malam itu kami sebisa mungkin  menciptakan suasana lebaran lebih hidup, makan malam bersama sembari mendengarkan alunan takbir lewat ponsel.
Sungguh sangat menyenangkan, saat mentari dengan wajahnya yang masih tampak malu-malu mulai terbit dari ufuk timur, kami semua bergegas, untuk bersiap-siap ke masjid untuk melaksanakan shalat Id. Pagi itu sesuai kesepakatan kami berangkat pukul 6 pagi, hingga pukul 7 kami sudah berada dimasjid. Namun saat tiba di masjid ternyata kami harus menunggu hingga jam 10 tepat untuk pelaksanaan shalat Id. Megingat warga muslim tersebar diberbagai pelosok kota Seoul, maka akan memakan waktu lama untuk perjalanan mereka sampai ke masjid itu, hingga shalat Id pun ditangguhkan untuk menunggu mereka. Setelah shalat Id usai, kami beramai-ramai keluar sekedar bersilaturahmi, mencari-cari beberapa orang yang kami kenal lalu berjabat tangan, dan terakhir di tutup dengan foto bersama. Setelah itu kami kembali keasrama.



Demikianlah sepenggal kisah yang tercipta dari serentetan kegiatan kami selama bulan Ramadhan dan hari raya Idul fitri berlangsug. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan dihati dan terdapat kesalahan dalam pengetikan selama saya memposting silahkan berikan kritik dan saran yang membangun pada post komentar , mohon maaf lahir batin dan selamat lebaran ^_^



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kami yang merindukanMu

Hari yang cerah,,,
Menuntun langkah-langkah kecil kaki kami siang ini
Menuju tempat yang insyaallah dipenuhi oleh pengunjung yang niatnya mulia
Menjadi relawan, mengumpulkan puing-puing rezeki yang ada
Untuk membantu sesama

Ditengah langkah gontai itu,,,
Dan Allah SWT mempertemukan kami
Dengan sosok yang merindui-Nya 
Tapi tak begitu paham bagaimana cara berinteraksi dengan-Nya

Tak jauh berbeda dengan kami 
Dia terlihat bahagia ketika bertemu saudari seimannya
Diantara jutaan penghuni negara yang mayoritas tak berkeyakinan ini
Saling bertukar cerita mengenai pengalaman hidup
Lalu meminta kami bertukar pengetahuan tentang Allah SWT

Kami memang bukan yang terbaik dan tau banyak tentang_Nya
Tapi kami telah mencoba memberikan yang terbaik yang kami bisa
Semoga dapat memberi manfaat untuk kita semua

Saudariku Bakula,,,
InsyaAllah rahmat_Nya menyertaimu
Jangan pernah berhenti ketika engkau letih
Kami semua mendukungmu
Untuk sama-sama berjuang dijalan-Nya 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hujan

   Menatap lembut tetesan bulir-bulir hujan bak permata yang membasahi kaca bus yang kutumpangi malam ini.

   Menyusuri kota Seoul dengan gemerlapan cahaya lampu dan gedung-gedung pencakar langitnya yang tampak teduh ketika terkena percikan hujan dipertengahan malam.

  Sepanjang perjalanan bus melaju diiringi musik klasik yang berbahasa Korea.

   Sembari jemari mungilku terus menari diatas screen keyboard ponselku, seketika pikiranku terbang jauh membahana kealam khayalku.

   Kurang lebih sekitar setengah abad yang lalu, negara bekas jajahan Inggris ini mulai menyulap dirinya perlahan menjadi negara maju, tanpa melupakan identitas dirinya..

   Kagum melihat kegigihan masyarakat dan pemerintah yang tetap melestarikan nilai-nilai budayanya melalui pelestarian berbagai jenis situs dan festival yang selalu diadakan secara berkesinambungan.

   Andai masyarakat negeriku juga sesejahtera ini..Bukan ingin menyesali yang telah terjadi, hanya ingin terus bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan untukku.

  Memberiku waktu dan kesempatan belajar dinegara ini, menimbah ilmu sebanyak-banyaknya.Dan insyaallah dengan izinNya pula akan kubaktikan untuk negeriku.

  Masih dibawah tetesan hujan ketika turun dari bis menuju asrama, tentu saja aku sudah tak lagi bercengkrama dengan khayalan.

   Membiarkan ragaku basah dan asyik menikmati hujan, sembari melepaskan segala penatku, bibirku terus melantunkan permintaan-permintaan kecil pada Rabbku.

   "Dibawah langit yang berbeda ini ya Rabb, dengan rahmatmu yang masih terus bernyanyi melalui tetesannya, Jadikanlah aku dengan segala kekuranganku ini menjadi manusia yang bermanfaat kelak. Tuntun langkahku dijalanMu".
 -Amin- 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ikhlas selalu memberi sukses yang berbeda


     Assalamualaikum Wr. Wb.


    Ketika lelah, letih bahkan jenuh menghampiri, sering kali beberapa keluhan selalu menyisahkan sesak dibenak. Terkadang beberapa perbedaan dengan orang disekitar kita selalu menciutkan rasa percaya diri dan semakin merajakan keminderan yang tidak seharusnya. Bahkan bisa jadi dengan keadaan demikian membuat kita semakin kufur dengan nikmat Allah SWT, yang bahkan keindahannya melebihi rencana kita.

   Telah menjadi budaya bagi mahasiswa setiap akhir semester menjadi masa yang sangat dinanti-natikan. Masa dimana saat ujian semester yang sangat menguras pikiran, waktu dan tenaga berakhir, lalu disambut dengan liburan panjang, yang menjadi kesempatan untuk merefresh kembali segala kepenatan dan melepas rindu yang teramat sangat kepada orang-orang tercinta yang selalu menanti kita dirumah ataupun dikampung halaman, khususnya bagi para perantau seperti saya.

   Untuk saya jarak Semarang, Jawa tengah dengan pulau Buton, Sulawesi tenggara bukanlah jarak yang begitu mudah ditempuh dengan sesuka hati. Bagi orang yang terbilang mampu dari segi materi sebenarnya jarak bukanlah penghalang untuk melepas rindu disetiap akhir semester kuliah, karena jika mereka mau, mereka bisa dengan mudahnya menyebrangi lautan luas dari pulau kepulau melalui pesawat terbang yang pada dasarnya tidak memakan waktu lama. Sedangkan saya harus menempuh jarak tersebut dengan kapal Pelni dari pelabuhan Tanjung emas, Semarang hingga pelabuhan Murhum, Bau-bau yang kurang lebih menghabiskan waktu perjalanan selama tiga hari dua malam hanya untuk meminimalis biaya perjalanan. Dan bahkan hanya bisa bertemu dengan orang-orang tercinta sekali dalam setahun yaitu saat libur semester akhir, atau saat menyambut hari raya Idul fitri.

   Meski tak jarang hal demikian senatiasa membuat saya berkecil hati, tapi  saya mengerti kalau itu telah menjadi bagian dari resiko menuntut ilmu ketempat yang jauh dari kampung halaman. Apalagi sampai saat ini saya masih memegang teguh nasehat dari guru besar  (Prof. La Ode M. Kamaludin) yang selalu menjadi panutan saya.






   Waktu itu dalam perjalanan pulang dari Jogja menuju Semarang, setelah menginap 1 malam di Jogja untuk menemani tamu Beliau berwisata ke candi Borobudur, mobil sedan yang meluncur dibawah terik matahari itu ditumpangi oleh lima orang, yang tidak lain adalah Beliau sendiri, Jean yang merupakan anak dari salah satu rekan beliau yang berasal dari Korea yang saat itu menjadi tamu beliau, kakak saya yang super hebat (kak Marlis), saya dan sopir beliau. Tiba-tiba beliau bertanya kepada saya “ade  nanti liburan pulang ?? “ spontan saya menjawab “iya”, lalu kalau tidak salah waktu itu kak Marlis sempat bertanya, pulangnya nanti naik apa, dan saya menjawab seadanya. Lalu beliau menambahkan “ kita itu orang pulau, jadi kalau pulang cukup naik kapal laut aja”. Saya sempat tertegun mendengar kalimat itu. “Saya punya sedikit cerita saat kuliah. Dulu saya gak punya kenderaan waktu kekampus,padahal jarak kampus dengan tempat tinggal saya cukup jauh, tapi setiap kekampus saya sering naik motor,diboncengi teman saya dengan motor vespa, yaa karena zaman dulu masih motor vespa yang ngetrend.” Lanjut Beliau bercerita. Dan kami semua ikut mendengarkan dengan seksama. “tau tidak kenapa saya selalu naik motor, karena teman saya anak orang kaya, dan dia senang berteman dengan saya karena saya pandai waktu dikampus,dan kami sering belajar bersama. Tapi saat ini setiap kali kami bertemu dia selalu berkata, kamu ternyata jauh lebih sukses dari saya, kalau tau begitu waktu itu saya tidak usah punya motor, biar suksesnya sama kayak kamu sekarang” jelas beliau. Dan sontak kami semua yang ada didalam mobil tersebut tertawa mendengar cerita tersebut. “ jadi maksud dari cerita itu yang bisa kamu ambil  adalah, bahwa pada dasarnya, akan berbeda hasil kesuksesan seseorang dengan orang lain yang mau bersusah-susah dahulu dengan yang terus-terusan ingin senang , dan akan berbeda pula hasil kesuksesan seseorang yang naik pesawat dan kapal laut”. Tambahnya lagi. Hal tersebutpun masih sedikit membuatku tertawa dan memngangguk pertanda paham dengan maksud dari cerita beliau yang secara tidak langsung memberiku motivasi sekaligus untuk tidak berkecil hati dengan keadaan.


     Dan sejak saat itu saya selalu menikmati keadaan yang saya alami meski tak jarang berbagai keluhan masih sering hinggap di setiap aktivitas saya. Tapi yang saya tau pasti adalah Allah akan selalu memberikan setimpal dengan apa yang kita alami dan yang kita lakukan.

    Semoga cerita ini juga bisa bermanfaat dan memotivasi pembaca,, ^_^
Wassalam_

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sabar itu indah

Pada dasarnya ada banyak kejadian-kejadian yang senantiasa dapat menjadi pelajaran berharga untuk kita setiap harinya.

Sabar adalah salah satu sifat yang menurut saya sedikit sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika kita tetap kuat menjalaninya insyaallah hasilnyapun akan jauh lebih indah. Seperti sepenggal cerita berikut ini.


Seorang wanita yang sabar ini, anggap saja namanya Dewi. Dewi sudah berkeluarga kurang lebih 20tahun, dan selama itu  dia belum juga dikaruniai seorang anak. Tentu saja hal ini sering membuatnya depresi. Dia sudah sempat mencoba berobat kemana-mana, dengan dokter yang berbeda-beda, tapi hasilnya masih tetap nihil.


Dulu kurang lebih 5tahun setelah usia pernikahannya dia memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, dan berharap dengan keadaan demikian bisa memicunya untuk hamil, tetapi hasilnya sama saja. Setelah anak yang diasuhnya telah berusia 15tahun kondisinya masih sama, kondisi ini makin menyiksa pikirannya, malah ada satu keadaan yang sempat membuatnya nyaris cerai dengan suaminya.

hal ini membuatnya kembali pasrah pada sang pencipta, bersimpuh dalam sujudnya, dan mengikhlaskan semuanya. Ternyata saat itu Allah SWT menjabah doanya. Hubungannya dengan suami kembali akur dan harmonis. Tapi cobaan hidupnya tidak sampai disitu saja, Allah mengujinya dengan penyakit yang membuatnya benar-benar drop, tapi dia tetap ikhlas dan tabah menjalani semuanya.


Lalu setelah beberapa bulan kemudian kondisinya perlahan membaik, dan dikeadaan yang sama Allah memberinya anugerah yang luar biasa. Rahimnya saat ini ditempati oleh tiga orang bayi kembar.




Subhanallah.....
Betapa indahnya rencana Allah, jika kita selalu mau bersabar Allah pasti memberi bahkan lebih dari yang kita inginkan. Karena Allah maha tau, Dia jauh lebih mengetahui apa yang kita butuhkan bahkan dari diri kita sendiri.


jika kita sabar semua akan indah pada waktunya.

Semoga bermanfaat ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tari Tradisional Indonesia

1. Tari Bambu anak raja dari kalimantan

At friendship Seoul Fair 2013

At Coex

2. Tari Lenggang Nyai dan Gantar Belian

klik disini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS